Putra Mahkota Mengatakan Bahwa Saudi Arabia akan Kembali ke "Islam Moderat"

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berjanji untuk mengembalikan Islam "moderat" yang terbuka untuk semua agama di dunia. Karena Arab Saudi dikenal dengan aturan ultrakonservatifnya.

Kami kembali ke tempat kami sebelumnya - sebuah negara dengan Islam moderat yang terbuka untuk semua agama dan dunia, " katanya di sebuah forum ekonomi di Riyadh, seperti dikutip AFP. "Kita tidak akan menghabiskan 30 tahun kedepan dalam hidup kita untuk menghadapi ide-ide destruktif. Kami akan menghancurkan mereka hari ini, " tambahnya. " Kami akan segera mengakhiri ekstremisme."
Mohammed bin Salman
Riyadh dikenal karena kepatuhan terhadap norma-norma Islam ultra-konservatif dan pemisahan pria dan wanita secara ketat. Sudah lama menjadi satu-satunya negara di mana wanita secara resmi dilarang menyetir.

Awal tahun ini, pangeran mahkota tersebut menuduh Teheran mempromosikan "ideologi ekstremis" dan memiliki ambisi untuk " mengendalikan dunia Islam." Ditanya apakah ada ruang untuk berdialog dengan Iran, pangeran berusia 31 tahun itu menjawab: " Bagaimana mungkin Saya sampai pada suatu pemahaman dengan seseorang, atau sebuah rezim, yang memiliki kepercayaan yang teguh yang dibangun di atas ideologi ekstremis? "

Dia mengatakan bahwa tujuan utama "rezim Iran adalah untuk mencapai titik fokus umat Islam [Mekah] dan kami tidak akan menunggu sampai pertarungan tersebut berada di dalam Arab Saudi dan kami akan bekerja sehingga pertempuran berada di pihak mereka, di dalam Iran, tidak di Arab Saudi. "

Pemerintah Saudi memberlakukan versi Islam Sunni yang ketat dan konservatif. Kerajaan Arab Saudi diperintah oleh sebuah kerajaan Sunni yang dikenal sebagai Rumah Saud, sementara Republik Islam Iran sangat Syiah. Perpecahan antara Sunni dan Syiah didasarkan pada konflik religius yang berlangsung lama yang dimulai sebagai sebuah perselisihan mengenai penerus Nabi Muhammad. Sementara Muslim Syiah percaya bahwa sepupu nabi tersebut seharusnya memenuhi perannya, Sunni mendukung pemilihan teman dan penasihat Muhammad, Abu Bakr, sebagai khalifah pertama negara Islam.


Hubungan diplomatik antara kedua negara diputuskan pada 2016 setelah pemrotes Iran menyerang Kedutaan Besar Saudi di Teheran, menyusul eksekusi ulama Syiah terkemuka Nefr al-Nimr di Riyadh. Menteri luar negeri Arab Saudi menanggapi dengan menuduh Iran membentuk " sel teroris " di dalam kerajaan tersebut. Iran kemudian mengeluarkan sebuah peringatan bahwa "pembalasan ilahi " akan datang ke Arab Saudi sebagai hukuman atas eksekusi Nimr dan juga untuk pemboman Riyadh di Yaman dan dukungan untuk pemerintah Bahrain. Pada bulan Februari tahun ini, Presiden Iran Hassan Rouhani, saat berkunjung ke sekutu Saudi Kuwait, mengatakan bahwa Teheran ingin memulihkan hubungan dan memperbaiki hubungan dengan semua tetangganya di Teluk Arab.