Pengungsi Gunung Agung Mencapai 81.152 Jiwa

Bali: Sejak pekan kemarin, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung menjadi Awas. Artinya, di dalam dapur vulkanik Gunung Agung diperkirakan sedang terjadi puncak dari aktivitas sebuah gunung api.

Gunung Agung sempat mengeluarkan semburan uap air dan asap putih melambung dari puncak kawah setinggi 200 meter.

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM Gede Suantika, bahwa keluarnya uap air itu adalah indikasi magma sudah semakin ke atas untuk mendobrak katup penutup kepundan yang berada di mulut kawah Gunung Agung.

Selain itu, aktivitas vulkanik yang masif itu pun ditandai dengan semakin banyaknya jumlah kegempaan vulkanik, dengan getaran yang makin kuat dan makin banyak.

Pengungsi melonjak sampai 81.152 Orang, ACT siapkan dapur umum

Sejak peningkatan status Awas Gunung Agung beberapa hari lalu, radius aman berada 9 kilometer dari puncak kawah. Artinya, lingkaran zona merah ditetapkan berada 9 kilometer jauhnya dari kawah Gunung Agung. Dalam lingkaran 9 kilometer tidak boleh ada aktivitas sama sekali di dalam zona merah, impaknya kondisi ini menimbulkan gelombang pengungsi yang luar biasa.


Tim Disaster Emergency and Relief Management (DERM) ACT yang berada di posko Kabupaten Karangasem menyatakan jumlah pengungsi hari Selasa kemarin (26/9) sudah di atas 81 ribu orang.

“Data ini didapat dari hitungan Pusdalops BPBD Bali, jumlah pengungsi tercatat menembus angka 81.152 orang yang tersebar di lebih dari 377 titik pengungsi di 9 kabupaten/kota di Bali,” kata Kusmayadi, pimpinan Tim DERM ACT untuk erupsi Gunung Agung.

Kusmayadi juga mengatakan, pos pengungsian terbanyak berada di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Klungkung. “Jumlah pengungsi yang mencapai ribuan jiwa dalam tiap posko membuat kebutuhan logistik sangat-sangat dibutuhkan. Kendala utama di setiap posko pengungsian minim dapur umum dan sarana sanitasi,” tutur Kusmayadi terhubung via telepon langsung dari Kabupaten Karangasem.


Mengantisipasi kebutuhan pengungsi yang tak tercukupi, Tim ACT dibantu lebih dari 40 relawan gabungan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) memprioritaskan distribusi logistik ke sejumlah posko pengungsian.
“Senin kemarin, distribusi logistik berupa beras, air mineral, popok bayi kita bawa ke Posko Induk Kecamatan Rendang. Lalu peralatan masak dapur umum kita siapkan di Desa Menanga. Sementara itu, distribusi makanan siap saji kita bawa ke Desa Pekraman, Pasuban,” ujar Kusmayadi.

Dari Desa Menanga di sebelah Barat Daya Gunung Agung, ACT siapkan dapur umum yang mampu menyiapkan ribuan paket makanan setiap harinya untuk para pengungsi di posko sekitar radius zona merah Gunung Agung.

Sampai cerita ini diunggah, Kusmayadi mengatakan kebutuhan mendesak pengungsi di posko ACT Desa Menanga meliputi logistik beras, alas tidur, selimut, air mineral, air bersih, pakaian dalam, pampers, pembalut, susu, personal hygiene, peralatan dapur umum, dan obat-obatan.

ACT